Rabu, 24 Juni 2015

RESENSI BUKU

IDENTITAS BUKU
Buku                  : Kecerdasan Spiritual (Mengapa SQ lebih penting dari pada IQ dan EQ)
Penulis               : Sukidi
Penerbit             : PT.Gramedia Pustaka Utama (2002)
Tebal                 : 125 lembar

ISI BUKU
Ditengah krisis global yang multi-dimensional dan kompleks ini, segi seginya sudah merambah setiap sudut kehidupan kita, mulai dari kesehatan , mata pencaharian, kualitas lingkungan, hubungan sosial, ekonomi, teknologi, politik dan bahkan merasuk ke dalam krisis-moral, intelektual, dan krisis spiritual sekaligus.
Pemerintahan kitapun yang seharusnya menjadi sumber utama penyelesaian segudang masalah bangsa yang tak kunjung usai yang justru hari tambah hari semakin rumit saja, lalu tampil menjadi bagian dari maslah itu sendiri, dan bahkan menjadi sumber masalah dengan melanggengkan praktek korupsi, kolusi, nepotisme, serta sejumlah anomaly sosial lainnya. Bayangkan, betapa kontradiktifnya pemerintah kita.
Mengapa Ruang Spiritual (Spiritual Space) dalam diri kita mengalami krisi yang luar biasa hebat? Karena kita tidak pernah mengisi ruang spiritual itu dengan hal-halyang baik dalam kehidupan kita. Namun kita terbiasa mengisinya dengan hal-hal buruk, yang menjadikan ekspresi diri kita semakin ekstrem dan beringas. Dari sudut pandang metafisika maupun epistemologi keagamaan, terjadinya krisis spiritual bisa di simpulkan sebagai akibat dari kehendak kita untuk memutuskan kita dengan Sang Pencipta.
Sejenak kita bertanya, mengapa akhirnya kita menghidupkan kembali, ke pusat diri, pusat spiritual, yang kita sebut dengan beberapa istilah qalb (Arab), heart (Inggris), dil (Persia), hsin (Cina).
Tragis apabila kita sama sekali lepas dari pengetahuan hati. Ibarat terputusnya antara “The Kingdom of the I” (Shelf) dengan “The kingdom of the heart”. Karena hati tidak hanya menjadi wadah untuk bertemu dan integrasinya “realistis eksistensi material”(Tempat bercokokolnya ego) dengan Realitas Spiritual tempat dimana yang esensial berada dan terpelihara juga sekaligus menjadi pusat kecerdasan kita (the center of our intelligence).
Pesan dari Profesor Studi Agama di State University of New York, Sachiko Murota dalam karyanya “chinese gleams of sufi light”:
“Barang siapa ingin memerintah suatu negeri, terlebih dahulu mengatur keluarganya secara benar dan demokratis, dan barang siapa ingin mengatur keluarganya secara benar dan demokratis, terlebih dahulu harus mengatur dirinya sendiri dengan benar, dan barang siapa ingin mengatur dirinya secara benar terlebih dahulu membuat hatinya menjadi benar.”
Hati menjadi elemen penting dalam Kecerdasan Spiritual. Bahkan, pekik kecerdasan itu terletak pada suara hati nuarani, (conscience). Inilah suara yang relative jernih dalam hiruk pikuk kehidupan kita, yang tidak bisa di tipu oleh siapapun, termasuk diri kita sendiri. Kebenarnan sejati, sebenarnya lebih terletak pada suara hati nurani, yang menjadi pokok sejati Kecerdasan Spiritual. Karenanya kecerdasan Spiritual menyingkap kebenaran sejati yang lebih sering terembunyi (hidden truth) di tengah adegan-adegan hidup yang serba palsu dan menipu.
Pengalaman harmoni soiritual kehadirat tuhan dicapai dan sekaligus di rasakan dengan menggunkan apa yang di dalam mistik spiritual disebut “Mata Hati”(Eye of the Heart)
Kecerdasan Spiritual menyelami semua itu dengan mata hati, karena mata hati hati dapat menyingkap kebenaran hakiki yang tampak di pelupuk mata.
Seperti yang kita ketahui, IQ dianggap sebagai standar pertama kecerdasan kita. Semakin tinggi tes IQ kita, umumnya kita dikatakan memiliki kualitas kecerdasan Intelektual yang tinggi.
            Cerdas-tidaknya otak kita sepertinya hanya ditentukan melalui School Aptitude Test (SAT). Howard Gardner, ahli psikologi Harvard School Education, USA, mengakui bahwa masa-masa kejayaan tes IQ dimulai sejak Perang Dunia I, saat 2 juta pria amerika dipilih melalui tes IQ pertama secara masal, yang mana tes IQ tersebut baru saja selesai di susun oleh Lewis Terman, ahli Ilmu Jiwa Universitas Stanford.
            Kekhasan cara berpikir IQ terletak pada rasional dan logis. IQ memang menjadi fakultas  rasional dalam diri manusia.
Di berbagai sekolah/ perguruan tinggi biasanya mendududuki rangking tinggi atau atas , pun juga di dalam dunia kerja, mereka akan mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan selepas dari Perguruan Tinggi. Apalagi, sekarang banyak perusahaan-perusahaan besar yang sebelumnya sudah melakukan “nota kesepakatan” dengan pihak sekolah/ kampus untuk dapat merekrut lulusan-lulusan terbaiknya. Mata rantai itulah yang menjadikan persepsi Masayarakat bahwa orang ber-IQ tinggi akan mempunyai masa depan yang cerah dan menjanjikan.
Daniel Goleman, adalah tokoh yang menentang bahwa IQ menjadi kunci sukses kecerdasan untuk meraih masa depan, dan sekaligus para-meter kesuksesan hidup. Sejak di paparkan “Emotional Intellegence” tahun 1995, riset terbaru Goleman cukup untuk menyimpulkan mengapa orang-orang yang ber-IQ tinggi gagal, dan yang  ber-IQ sedang-sedang saja menjadi sukses. Pasti ada faktor lain untuk menjadi cerdas, yang kemudian dipopulerkan oleh Goleman dengan “Kecerdasan Emosional”.
Contoh riset nyata terjadi yaitu insiden penusukan oleh Jason, siswa SMU Coral Springs, Florida, kepada guru fisikanya dengan alasan telah memberinya nilai 80, karena menurut Jason, hal tersebut dapat menghambat dirinya untuk masuk fakultas kedokteran Universitas Harvard.
Sebenarnya agak aneh ketika kita berpikir bagaimana kita dapat membawa kecerdasan pada emosi karena notabenenya emosi sering membawa kita ke dalam “amarah”. Dan lazimnya amarah adalah sikap yang tidak terpuji. Tetapi, demikian saran dari aristoteles: “marahlah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat demi tujuan yang benar.

KELEBIHAN
 1. Sistematika yang baik dalam penulisan yang memudahkan pembaca untuk bisa memahami
 2. Cukup sering mengambil fakta dalam kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah untuk bisa di cerna bagi semua kalangan

KEKURANGAN
1. Monoton dalam menukilkan tokoh.

              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar