IDENTITAS
BUKU
Buku : Kecerdasan Spiritual
(Mengapa SQ lebih penting dari pada IQ dan EQ)
Penulis :
Sukidi
Penerbit :
PT.Gramedia Pustaka Utama (2002)
Tebal : 125 lembar
ISI BUKU
Ditengah krisis global
yang multi-dimensional dan kompleks ini, segi seginya sudah merambah setiap
sudut kehidupan kita, mulai dari kesehatan , mata pencaharian, kualitas
lingkungan, hubungan sosial, ekonomi, teknologi, politik dan bahkan merasuk ke
dalam krisis-moral, intelektual, dan krisis spiritual sekaligus.
Pemerintahan kitapun
yang seharusnya menjadi sumber utama penyelesaian segudang masalah bangsa yang
tak kunjung usai yang justru hari tambah hari semakin rumit saja, lalu tampil
menjadi bagian dari maslah itu sendiri, dan bahkan menjadi sumber masalah
dengan melanggengkan praktek korupsi, kolusi, nepotisme, serta sejumlah anomaly
sosial lainnya. Bayangkan, betapa kontradiktifnya pemerintah kita.
Mengapa Ruang Spiritual (Spiritual Space) dalam diri
kita mengalami krisi yang luar biasa hebat? Karena kita tidak pernah mengisi
ruang spiritual itu dengan hal-halyang baik dalam kehidupan kita. Namun kita
terbiasa mengisinya dengan hal-hal buruk, yang menjadikan ekspresi diri kita
semakin ekstrem dan beringas. Dari sudut pandang metafisika maupun epistemologi
keagamaan, terjadinya krisis spiritual bisa di simpulkan sebagai akibat dari
kehendak kita untuk memutuskan kita dengan Sang Pencipta.
Sejenak kita bertanya, mengapa akhirnya kita
menghidupkan kembali, ke pusat diri, pusat spiritual, yang kita sebut dengan
beberapa istilah qalb (Arab), heart (Inggris), dil (Persia), hsin (Cina).
Tragis apabila kita sama sekali lepas dari pengetahuan
hati. Ibarat terputusnya antara “The Kingdom of the I” (Shelf) dengan “The
kingdom of the heart”. Karena hati tidak hanya menjadi wadah untuk bertemu dan
integrasinya “realistis eksistensi material”(Tempat bercokokolnya ego) dengan
Realitas Spiritual tempat dimana yang esensial berada dan terpelihara juga
sekaligus menjadi pusat kecerdasan kita (the center of our intelligence).
Pesan dari Profesor Studi Agama di State University of
New York, Sachiko Murota dalam karyanya “chinese gleams of sufi light”:
“Barang siapa ingin memerintah suatu negeri, terlebih
dahulu mengatur keluarganya secara benar dan demokratis, dan barang siapa ingin
mengatur keluarganya secara benar dan demokratis, terlebih dahulu harus
mengatur dirinya sendiri dengan benar, dan barang siapa ingin mengatur dirinya
secara benar terlebih dahulu membuat hatinya menjadi benar.”
Hati menjadi elemen penting dalam Kecerdasan Spiritual.
Bahkan, pekik kecerdasan itu terletak pada suara hati nuarani, (conscience).
Inilah suara yang relative jernih dalam hiruk pikuk kehidupan kita, yang tidak
bisa di tipu oleh siapapun, termasuk diri kita sendiri. Kebenarnan sejati,
sebenarnya lebih terletak pada suara hati nurani, yang menjadi pokok sejati
Kecerdasan Spiritual. Karenanya kecerdasan Spiritual menyingkap kebenaran
sejati yang lebih sering terembunyi (hidden truth) di tengah adegan-adegan
hidup yang serba palsu dan menipu.
Pengalaman harmoni soiritual kehadirat tuhan dicapai dan
sekaligus di rasakan dengan menggunkan apa yang di dalam mistik spiritual
disebut “Mata Hati”(Eye of the Heart)
Kecerdasan Spiritual menyelami semua itu dengan mata
hati, karena mata hati hati dapat menyingkap kebenaran hakiki yang tampak di
pelupuk mata.
Seperti yang
kita ketahui, IQ dianggap sebagai standar pertama kecerdasan kita. Semakin
tinggi tes IQ kita, umumnya kita dikatakan memiliki kualitas kecerdasan
Intelektual yang tinggi.
Cerdas-tidaknya otak kita sepertinya hanya ditentukan
melalui School Aptitude Test (SAT). Howard Gardner, ahli psikologi Harvard
School Education, USA, mengakui bahwa masa-masa kejayaan tes IQ dimulai sejak
Perang Dunia I, saat 2 juta pria amerika dipilih melalui tes IQ pertama secara
masal, yang mana tes IQ tersebut baru saja selesai di susun oleh Lewis Terman,
ahli Ilmu Jiwa Universitas Stanford.
Kekhasan cara berpikir IQ terletak pada rasional dan
logis. IQ memang menjadi fakultas
rasional dalam diri manusia.
Di berbagai
sekolah/ perguruan tinggi biasanya mendududuki rangking tinggi atau atas , pun
juga di dalam dunia kerja, mereka akan mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan
selepas dari Perguruan Tinggi. Apalagi, sekarang banyak perusahaan-perusahaan
besar yang sebelumnya sudah melakukan “nota kesepakatan” dengan pihak sekolah/
kampus untuk dapat merekrut lulusan-lulusan terbaiknya. Mata rantai itulah yang
menjadikan persepsi Masayarakat bahwa orang ber-IQ tinggi akan mempunyai masa
depan yang cerah dan menjanjikan.
Daniel Goleman,
adalah tokoh yang menentang bahwa IQ menjadi kunci sukses kecerdasan untuk
meraih masa depan, dan sekaligus para-meter kesuksesan hidup. Sejak di paparkan
“Emotional Intellegence” tahun 1995, riset terbaru Goleman cukup untuk
menyimpulkan mengapa orang-orang yang ber-IQ tinggi gagal, dan yang ber-IQ sedang-sedang saja menjadi sukses.
Pasti ada faktor lain untuk menjadi cerdas, yang kemudian dipopulerkan oleh
Goleman dengan “Kecerdasan Emosional”.
Contoh riset
nyata terjadi yaitu insiden penusukan oleh Jason, siswa SMU Coral Springs,
Florida, kepada guru fisikanya dengan alasan telah memberinya nilai 80, karena
menurut Jason, hal tersebut dapat menghambat dirinya untuk masuk fakultas
kedokteran Universitas Harvard.
Sebenarnya
agak aneh ketika kita berpikir bagaimana kita dapat membawa kecerdasan pada
emosi karena notabenenya emosi sering membawa kita ke dalam “amarah”. Dan
lazimnya amarah adalah sikap yang tidak terpuji. Tetapi, demikian saran dari
aristoteles: “marahlah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada
waktu yang tepat demi tujuan yang benar.
KELEBIHAN
1. Sistematika yang baik dalam penulisan yang memudahkan
pembaca untuk bisa memahami
2. Cukup sering mengambil fakta dalam kehidupan sehari-hari
sehingga lebih mudah untuk bisa di cerna bagi semua kalangan
KEKURANGAN
1. Monoton dalam menukilkan tokoh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar