Menurut Teori
humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. proses belajar
dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai
aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami
perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya.
Tujuan utama para
pendidik adalah membantu siswa untuk
mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal
diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya
dua bagian pada proses belajar, ialah :
Proses pemerolehan
informasi baru,
Personalia informasi ini
pada individu.
Tokoh penting dalam
teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs,
Abraham Maslow dan Carl Rogers.
Implikasi Teori Belajar
Humanistik
a. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik
memberi perhatian dan menekankan bahwa guru
berperan sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk
memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar
yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk):
Fasilitator sebaiknya
memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau
pengalaman kelas
Fasilitator membantu
untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan
juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
Dia mempercayai adanya
keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang
bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam
belajar yang bermakna tadi.
Dia mencoba mengatur dan
menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan
para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
Dia menempatkan dirinya
sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh
kelompok.
Di dalam menanggapi
ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat
intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara
yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
Bilamana cuaca penerima
kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai
seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut
menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
Dia mengambil prakarsa
untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak
menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi
yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
Dia harus tetap waspada
terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat
selama belajar
Di dalam berperan
sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan
menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Aplikasi Teori
Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori
humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang
mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran
humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan
motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru
memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk
memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai
pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri.
Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara
positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran
lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang
umumnya dilalui adalah :
Merumuskan tujuan
belajar yang jelas
Mengusahakan partisipasi
aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
Mendorong siswa untuk
mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
Mendorong siswa untuk
peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
Siswa di dorong untuk
bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang
diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
Guru menerima siswa apa
adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif
tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau
proses belajarnya.
Memberikan kesempatan
murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
Evaluasi diberikan
secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan
teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang
bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis
terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa
merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola
pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi
manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur
pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain
atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
Sumber:
Psikologi Belajar: Dr.
Mulyati, M.Pd
Psikologi Belajar: Drs.
H. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono
Psikologi Pendidikan:
Sugihartono,dkk
Psikologi Pendidikan:
Rochman Natawidjaya dan Moein Moesa
Landasan Kependidikan:
Prof. Dr. Made Pidarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar